Personal Life

Warisannya adalah Sebuah Nama

Photo by C. SHII on Unsplash

Dari Ayahku yang meninggalkanku di usia belia, aku mendapatkan warisan yang amat sangat kuhargai, yang baru kuketahui setelah aku beranjak dewasa.

Di 2023 lalu, aku baru menyadari kenyataan akan arti nama terakhirku: Sahitya. Mulanya aku mengira nama itu berarti ‘kedamaian’ karena toh, dulu Ayah berkata seperti itu. “Namamu artinya bibit yang membawa kedamaian.” Aku yang masih SD manggut-manggut mengira artinya aku sebagai anak pertama, harus berbudi baik dan tidak pernah mengajak adikku bertengkar.

Beranjak remaja, beberapa acara menggunakan ‘Sahitya’ sebagai namanya, yang seringkali disandingkan dengan nama Hindi yang kelihatan gagah seperti Adhyaksa, Baureksa, Nalendra, dan lain-lain yang aku tidak ambil pusing. Toh nama itu memang bagus dan aesthetic, kalau kata anak sekarang.

Baru setelah umurku 23, aku menyadari setelah iseng mencari arti namaku dengan bahasa aslinya, yaitu साहित्य.

Artinya literasi. The literate one.

Bahkan ada Sahitya Akademi Awards, sebuah penghargaan untuk karya literasi di India sana.

Seketika aku melongo. Aku tumbuh dengan suka membaca karena ketika akses buku anak tidak semudah sekarang, Ibuku menempel-nempel gambar dan tulisan dari koran bekas untuk aku eja ketika masih balita. Di rumahku selalu ada koran yang dibawa pulang Ayahku dari kantornya karena toh tidak ada yang akan membacanya setelah hari lewat. Selalu ada majalah Bobo yang dibelikan tiap seminggu sekali. Selalu ada buku baru yang dibelikan setiap Ayah pendidikan ke Yogyakarta, yang sehari sebelum pulang beliau selalu menelepon rumah untuk menanyakan oleh-oleh dan kujawab, buku! Lalu Ayah tertawa di ujung telepon dan pulang dengan membawa Laskar Pelangi. Suatu hari di Maret 2007, usiaku 6 tahun, Ayahku berkata sembari mengeluarkan buku bersampul merah muda yang akhirnya menjadi lecek karena sudah terlalu banyak kubaca, “Tadi Ayah lihat, buku ini ramai sekali orang mengantri, jadi Ayah belikan satu.”

Ah Ayahku, yang mewariskan nama yang baik sekali untukku. Ayah mana yang membelikan novel 400 halaman untuk anaknya yang baru kelas tiga? Ayahku, yang senama dengan salah satu penyair abad lalu. Aku bertanya-tanya, apa beliau bangga melihatku sekarang? Semoga kelak, kita bisa membuat puisi bersama di surga, dan berdeklamasi bersama malaikat. 🤍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *