“Gema punya warung.. Gema sekarang jualan. Gema anak penjual..” kata anak-anak di depan rumahku, menyanyikan kata-kata yang sama berulang kali.

“Bu, mereka ngomong kalau akuu anak penjual!” kata Gema mengadu, wajahnya merah.

Istriku yang sedang menggoreng risol mengusap kepala bocah cilik itu. “Lho, kan memang penjual. Mereka cuma ngomong yang betulan.”

“Tapi Gema tidak suka dinyanyikan begitu, diolok-olok. Dulu Gema tidak pernah dibegitukan.”

“Ibu tahu kamu sebal, tapi mereka kan bicara hal yang betul. Sekarang Gema punya jualan. Biar nggak sebal lagi, kamu bisa mengajak mereka makan risol buatan Ibu ini.” Istriku mengangkat risol dari penggorengan untuk kemudian ditiriskan ke ke nampan yang sudah dialasi oleh kertas koran.

“Nih, mumpung masih panas.”

Gema memandang risol dan Ibunya dengan tidak yakin. “Betulan, Bu?”

“Iya, sayang. Coba teman-temanmu ajak masuk, suruh makan.”

Dengan wajah tidak percyaa, Gema beranjak keluar untuk memanggil teman-temannya. “Kalian mau makan risol? Ibuku goreng risol. Banyak sekali.”

Teman-temannya berpandangan, lalu dengan kompak mereka bersorak, mauu!

Setelahnya, anakku dan teman-temannya sibuk meniup-niup risol yang memang masih menimbulkan uap panas.

“Enak sekali Tante!”

“Iya, ini enak banget!”

“Besok kalau Mamaku beli ini banyak-banyak boleh ya?”

Aku dan istriku memandang kekacauan di depan kami dengan tersenyum. Bahkan Gema pun berusaha membantu keluarga ini.

Sabar ya, Nak. Sebentar lagi beli sepatu baru.

***

Cuaca semakin panas, bahkan rasa panasnya terasa tertumpuk dan berputar-putar dalam langit kota. Cuaca yang begini yang biasanya mengundang awan hitam yang gelap, lalu hujan akan turun dengan deras.Setelah menyerahkan uang pada angkot yang kutumpangi, aku melangkahkan kakiku pada tempat wawancara selanjutnya, pabrik kerupuk di wilayah pasar di kota ini.

Begitu turun, hidungku disambut dengan bau anyir kulit sapi yang menyeruak hampir dari seluruh sudut. Pabrik dengan model bangunan setengah terbuka yang kudatangi ini memang pabrik pengolahan kerupuk dari kulit sapi.

Pekerjaan yang tidak aku beritahu ke istriku, karena amat mungkin dia tidak akan mengizinkanku bekerja disini. Sementara untuk saat ini, dengan istriku yang bekerja ekstra, aku juga berusaha tidak memilih-milih pekerjaan.

Di depanku, seorang laki-laki bertubuh gempal menyilakanku masuk. Kumisnya centang perenang, terlihat sangat dirawat. Senyumnya amat lebar, raut wajahnya terlihat amat ramah.

“Temannya Cipto, ya?”

“Betul, Pak.” kataku ragu.

“Saya yang punya pabrik.” kata pria itu sambil mengulurkan tangan. Tanganku dijabatnya dengan erat.

“Jadi begini, Nak. Pabrik kami kekurangan orang untuk menghitung-hitung, karena orang sebelumnya yang bertugas menghitung itu anakku sendiri. Dia sudah menikah dan tidak tinggal disini lagi.” katanya dengan nada sedih.

“Kemarin Cipto menghubungi, kalau ada anak muda yang butuh pekerjaan. Kutawarilah pekerjaan di pabrikku ini, Sebelumnya aku menawari dia, kan dia juga kehilangan pekerjaan. Tapi dia tidak tahan dengan bau kulit sapi.” lanjutnya sambil mengernyitkan dahi. Aku sebetulnya bisa melihat alasannya, karena bau kulit sapi yang belum diolah ternyata sangat amis.

“Kalau Nak mau, bisa bekerja mulai besok. Saya gaji UMR, ada makan siang juga.” pungkas pemilik pabrik.

Aku memutar otak. Kalau diterima di perusahaan sebelumnya, maka aku tidak usah bekerja disini. Namun melihat pendaftar yang ratusan, sepertinya akan lebih mudah bila bekerja disini, mengingat uang pesangonku juga mulai menipis karena telah diambil sebagian untuk modal berjualan.

“Saya hubungi lagi besok ya, Pak?” kataku dengan nada mempertimbangkan.

Bapak berkumis berwajah ramah itu mengangguk. “Saya berharap Nak mau bekerja disini. Saya sulit percaya dengan orang. Karena kamu direkomendasikan teman baik saya, jadi tanpa babibu kamu saya suruh kemari.”

Aku mengangguk, lalu berpamitan.Lembaran-lembaran kulit sapi yang menggantung di pasak-pasak kayu adalah hal yang mengantarku pulang.

***

Bis bergulir menyusuri pinggiran kota sebeluum pada akhirnya sampai ke depan rumahku. Bersamaan dengan itu, ada sebuah pesan masuk ke ponselku.

Setelah mempertimbangkan profil Anda dan kebutuhan perusahaan, mohon maaf kami belum bisa mengajak Anda sebagai bagian dari perusahaan kami.

Baiklah, kerja di perusahaan kerupuk juga tidak apa. Barangkali memang berkahnya disitu, menemani seorang Bapak yang ditinggal anak satu-satunya pindah rumah. Aku mengetuk pintu sebelum akhirnya disambut oleh istri dan anakku. Soal kerja di pabrik kerupuk ini, istriku akan mengerti—meski dia selalu menginginkanku bekerja di perusahaan yang memakai seragam.

Hari yang panjang.

Sepertinya, ceritaku akan butuh waktu yang lama.

(Selesai)

Epilog

“Gema mau sepatu yang itu!” ujar anakku, menunjuk sepatu putih dengan garis-garis merah.

“Okey, yang itu ya.” tanganku bergerak mengambil sepatu yang sudah dipilih oleh Gema. “Mbak, ini berapa harganya?”

Sementara itu, anakku berlarian mengelilingi toko sepatu. Yey, sepatu baru, sepatu baru!