Book Review,  Books & Reading

Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi – Theoresia Rumthe & Weslly Johannes [Book Review]

Apabila diibaratkan bahwa non-fiksi adalah energi bagi otak, maka puisi dan fiksi lainnya adalah energi bagi jiwa.

Aku mengenal Weslly Johannes dari sepotong puisinya yang lewat di beranda media sosial. Ketika melihat akunnya, beliau sudah menerbitkan beberapa buku puisi, salah satunya ini. Buku dengan judul yang panjang ini (biasanya judul buku puisi hanya satu hingga tiga kata saja, kan? hahaha) berhasil menarik perhatianku. Selain sampulnya yang cantik, aku juga penasaran akan puisi hasil kolaborasinya.

Ternyata buku puisi ini ditulis dengan menarik. Kedua penulis seolah saling berbalas puisi, ada kontinuitas antara satu puisi dengan puisi selanjutnya. Seringkali kedua penulis mengambil frasa atau kalimat dari puisi sebelumnya, yang lalu dilanjutkan dalam puisinya.

Misalnya saja, dalam halaman 90-91.

Ini Aku

WJ / 29 Juli 2020

ini aku, aku pulang. 
pintu terbentang. 
ekor anjing bergoyang. 

ini aku, aku pulang. 
mengejar di belakang 
kota yang darinya kita 
lari bersembunyi 

ini aku, aku pulang.
pintu tertutup.
lonceng kenang bergoyang.

ini aku, aku pulang.
menggonggong di belakang.
kota yang darinya aku
lari mencarimu.

ini aku, aku pulang.
sepi adalah rumah segala sesuatu
yang tak pernah bertemu.

ini aku, aku pulang.
melompat ke dalam gendongan,
ingatan yang setia mengendus
letih sepulang kerja.

Terkunci di Belakang

TR / 29 Juli 2020

ini aku,
aku pulang,
pada ranting yang bergoyang.
aku pulang, 
terkunci di belakang,
kota yang darinya kita
lari. 
ini aku, 
aku pulang. 
ke balik jendela semilir ilalang. 
aku pulang, 
pada lorong panjang, 
sebuah kereta darinya cinta 
bersembunyi.

Ketika aku membaca berita, ternyata Theoresia dan Weslly memang membuat buku ini dengan cara saling berbalas melewati e-mail. Dua buku puisi sebelumnya dibuat dengan memanfaatkan WhatsApp serta SMS.

Buku ini memiliki pembahasan yang luas, mulai dari kehidupan kematian, keluarga, percintaan, cita-cita, dan banyak hal lainnya. Weslly memiliki kekuatan pada kata-kata yang sederhana, tapi menggugah. Sementara Theoresia punya diksi yang beragam sehingga puisinya lebih kaya.

Jadi penasaran buku-buku mereka yang lain! ­čÖé

Baca juga: Menyelami Sudut Pandang Perempuan dari Kim Ji Yeong, Lahir Tahun 1982

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *