Review Kafka on the Shore Haruki Murakami
Book Review,  Books & Reading

Mengintip Dunia Murakami dari Kafka on The Shore [Book Review]

GOKIIIILLLL! Hahahaha disini aku bakal cerita pengalaman pertamaku membaca Murakami (yang kata orang wajib banget dibaca itu)!!

Kafka on the Shore adalah judul yang aku pilih setelah melihat review di suatu akun Instagram perbukuan. Buku mana yang kiranya dibaca duluan apabila ingin berkenalan dengan Murakami? Banyak yang merekomendasikan buku ini, jadi aku baca ini!

Ceritain apa?

Di bagian awal, Murakami menyuguhkan sudut pandang dari seorang anak laki-laki berusia 15 tahun bernama Kafka Tamura. Ditampilkan dialog (atau monolog) dengan seorang lain bernama Gagak yang aku duga merupakan alter-ego dari Kafka. Mereka (atau dia) sedang membicarakan perihal rencana kaburnya Kafka dari rumah yang ditinggalinya dengan Ayahnya.

Kemudian, di bab dua, Murakami menyuguhkan peristiwa lain yang sepertinya sama sekali tidak berkaitan dengan Kafka. Peristiwa ini yang nantinya menjadi awal dari kisah Nakata, protagonis kedua dalam buku ini.

Bab-bab selanjutnya memiliki pola yang sama, menceritakan kisah Kafka dan Nakata secara bergiliran. Kafka dengan ‘Kutukan Oedipal’ dan Nakata dengan penyakit yang dibawanya dari kecil.

Kafka diceritakan berhasil kabur dari rumah dan sampai di kota Takamatsu. Dia lantas bertemu dengan orang-orang yang mengambil peran penting dalam hidupnya. Yang pertama ialah Sakura, seorang gadis yang usianya beberapa tahun diatas Kafka. Lalu Oshima, penjaga Perpustakaan Komura, dan Nona Saeki, pemimpin Perpustakaan Komura.

Sementara Nakata, tokoh unik yang diceritakan bisa berbahasa kucing, juga mengalami petualangan yang amat jauh bersama Hoshino, si supir truk.

Meski pada akhirnya mereka tidak pernah bertemu secara fisik, namun peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka berkaitan satu sama lain.

Secara keseluruhan,

Novel ini memiliki plot yang amat menarik dan tidak biasa. Alurnya maju mundur dan berputar antara kedua protagonis itu. Murakami membuat novel ini begitu padat dengan membahas berbagai macam hal. Mulai dari hidup dan mati, cinta, petualangan, hubungan anak-orangtua, rasa percaya, dan masih banyak lagi. Murakami juga sering menambahkan ungkapan-ungkapan dari filsuf ternama. Juga mengangkat tema Beethoven bahkan drama Hamlet, yang membuat unsur cerita novel ini semakin banyak hahaha. Dengan menggabungkan antara unsur Jepang dan Barat, agaknya Murakami ini banyak terpengaruh gagasan-gagasan modern dunia Barat.

Setengah awal buku ini terasa sangat berat untuk dibaca. Karena memasukkan banyak sekali unsur serta pengenalan kedua tokoh, jadi belum kelihatan nyambungnya dimana. Apalagi untukku yang baru pertama kali membaca karya Murakami, jadi belum familiar dengan gaya tulisannya. Tapi setelah mengerti pola besar dari buku ini, setengah akhir novel lebih bisa kumengerti. Puzzle disana-sini yang terpecah di awal, pelan-pelan disatukan.

Ada fakta lucu dari Wikipedia. Bahwa Murakami membuka kesempatan bagi para pembaca untuk menanyakan bagian-bagian yang tidak dipahami. Dari 8000-an pertanyaan yang masuk, novelis itu menjawab sekitar 1200-an. Murakami menganjurkan agar pembaca membaca berulang-ulang agar memahami novel ini. “Kafka on the Shore contains several riddles, but there aren’t any solutions provided. Instead, several of these riddles combine, and through their interaction the possibility of a solution takes shape. And the form this solution takes will be different for each reader. To put it another way, the riddles function as part of the solution. It’s hard to explain, but that’s the kind of novel I set out to write”.

Artinya novel ini open for interpretation bagi para pembacanya. Seru sih, tapi yaaa itu, agak berat dikit 😂

Baca juga: MALICE – Kisah Pembunuhan Penulis [Book Review]

Sempat terjeda

Aku sendiri membaca setengah bagian novel ini di bulan September, lalu meninggalkannya tanpa terbaca. Sampai bulan November ini hahaha. Berat banget bacanya, pusing kepalaku. Akhirnya aku mendinginkan kepalaku (dan ga kerasa sampai 2 bulan wkwkwk) baru mulai baca lagi. Jujur ditengah-tengah rasanya mau nyerah aja. T__T Mana Murakami suka mengaburkan kenyataan dengan bolak-balik mengganti antara dunia realitas dengan metafisik yang jadinya agak diluar nalar, ya. Jadinya makin gak paham aku 😂

Tapi untungnya, setengah akhir novel ini mulai bisa dipahami. Karena aku udah kebiasa sama gaya tulisannya, juga dengan hal-hal aneh yang bisa muncul secara tiba-tiba. Memang betul, karya Murakami itu baiknya dibaca aja sampai akhir, ga perlu ditanya-tanya. Karena saking banyaknya hal yang akan ditanyakan, nanti baca bukunya ga selesai-selesai. 😂 Dulu aku kira Kazuo Ishiguro sudah aneh, tapi ternyata Haruki Murakami lebih aneh lagi! 😂

Ketika aku ikut diskusi dengan klub buku Rak Buku, kakak-kakak disana bilang kalau memang itu ciri khasnya Murakami. “Aneh,” katanya. “Aku aja nggak paham. Kamu sih, pertama baca mulai dari Kafka. Ya aneh banget emang hahaha.” Akunya menangisss 😂 Tapi kata mereka ada lagi buku Murakami yang lebih aneh daripada Kafka. Yah, aku ga bisa bayangin gimana..

Terus lagi, kakak-kakaknya bilang kalau aku coba baca Franz Kafka-nya yang asli. Gak dulu deh kak, aku pusing kalau baca dalam waktu dekat 😭😭

Buku ini terasa sebagai campuran antara fantasy, thriller, dan surrealism. Dulu aku kira tema surealisme cuma ada di lukisan, tapi ternyata dalam tulisan juga ada. :”) Saking hebatnya, buku ini termasuk dalam “The 10 Best Books of 2005” dari The New York Times. Buku ini juga menerima ‘the World Fantasy Award’ pada 2006.

Last, this book isn’t for you who hate unrealism and abstract concept. 😂 Plus kalau lagi pusing jangan baca ini, yang ada makin pusing wkakakakak.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *