Gadis Kretek Ratih Kumala
Book Review,  Books & Reading

Nostalgia Masa Lampau bersama Gadis Kretek oleh Ratih Kumala [Book Review]

.

Kombinasi antara sejarah kretek, emansipasi wanita, dan masalah keluarga oleh penulis diramu menjadi sebuah cerita yang menyenangkan. Konflik keluarga yang mengakar lama dalam hal bisnis dan percintaan menjadi premis yang diangkat. Sebagai pembaca, aku tidak bosan untuk mengikuti kisah Tegar, Karim, dan Lebas (beserta pertengkaran khas saudara ala mereka ­čśé) dalam mencari Jeng Yah.

Penulis berhasil mengombinasikan sejarah, drama, dan humor dengan porsi yang sesuai. Alur yang maju mundur, bertumpuk satu sama lain antara kisah cinta pada masa awal kemerdekaan Indonesia dengan kisah pencarian jejak di masa kini, dipadu dengan sejarah kretek yang diceritakan dengan santai, menjadikan novel ini tidak lepas dari tanganku dari awal hingga selesai.

Bagi pembaca non-Jawa, buku ini berisi lumayan banyak percakapan dengan bahasa Jawa, yang mungkin agak sedikit mengganggu karena harus sering membuka catatan kaki untuk melihat artinya.

Menurutku ada dua poin penting yang disampaikan dalam novel ini, yaitu sejarah kretek, emansipasi perempuan (tentu saja karena penulisnya juga perempuan!), dibumbui sejarah Indonesia tahun 1965 yang menjadi benang merah cerita.

Aku suka novel ini karena penulisnya jelas mengadakan riset yang mendalam. Terlebih, latar tempat (terutama di Kudus) dan budaya mengisap kretek yang keduanya dekat dengan lingkunganku membuat proses membaca menjadi lebih menyenangkan, karena aku memahami bahasa serta budaya yang ditampilkan dalam novel.

Aku juga suka bagaimana penulis menggambarkan macam-macam rasa kretek dan suasana yang dibawanya. Mirip dengan wine tasting, kalau disini kretek tasting wkwk. Porsi cerita tentang kretek dan sejarahnya cukup memakan porsi lumayan banyak ketimbang fiksinya, namun aku sih tidak masalah (karena kayaknya aku emang betah baca historical fiction aja sih wkwkkw)

Sejarah kretek adalah bagian dari sejarah Indonesia, mengingat bagaimana tumbuh dan berkembangnya produk kretek itu juga dipengaruhi oleh sejarah negeri ini. Pengetahuan tentang kretek kerap disampaikan dalam bentuk percakapan antar tokoh, sehingga hal itu masuk menjadi bagian cerita. Suasana masa awal kemerdekaan juga digambarkan dengan jelas dan menjadi satu dengan latar dan ceritanya.

Membaca ini membuatku teringat dengan Simbah-simbah di desaku yang semasa kecilku dulu melinting rokoknya sendiri. Mbako (tembakau), cengkeh dan sedikit melati yang ditanam depan rumah diracik dan digulung untuk kemudian dinikmati.

Novel ini awalnya aku baca karena penasaran. Terutama karena adanya adaptasi Netflix dan ada Dian Sastro wkwkwk. Kedua untuk mengikuti challenge #MembacaIndonesia dari Kak Way @awaywithbooks, akhirnya berakhir menjadi novel Indonesia yang aku sukai.

Kalau kamu mau coba baca novel dengan latar sejarah Indonesia yang ringan dibaca, coba baca novel ini deh!

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *