Fiction

Komentar

Terdengar suara tangisan dari ruang depan. Cepat-cepat aku menyisihkan cucianku lalu bergegas melihat bayiku yang tadinya pulas. Sekarang dia merengek, sepertinya kelaparan. Cuaca hari itu panas, matahari tepat berada di atas kepala.

“Cup, cup.. Sayangku lapar ya?” kataku sembari menimang-nimangnya. Kudekatkan dadaku ke mulutnya agar Ia bisa segera menyusu. Semenit, dua menit.. Naas, tangisannya semakin keras. Duh, sepertinya air susuku tidak keluar lagi.. Sudah begini sejak Senin lalu. Kata Ibu Bidan, para Ibu tidak boleh stres. Bagaimanalah tidak stres, jika uang simpanan menipis dan hanya cukup untuk beberapa hari lagi?

Aku bergegas mencari apa yang bisa kuminumkan pada bayiku. Ah, sepertinya susu kental manis bisa menggantikan air susuku. Setidaknya dia punya hal untuk diminum. Bergegas aku menuju warung Ceu Mamah di sebelah untuk membeli satu sachet susu itu. Sesampainya di rumah, aku segera meminumkan susu yang dilarutkan dengan air hangat itu.

Alhamdulillah.. Bayiku bisa meminumnya! Dia kelihatan lucu sekali ketika minum! Langsung saja kunyalakan kamera ponselku untuk merekamnya. Ah, sepertinya menyiarkan langsung lebih baik–akan ada lebih banyak orang mengetahui tentang keluarga kecil kami yang walaupun, tidak lengkap, tapi setidaknya aku sudah berusaha semaksimal mungkin.

"Bayi kok dikasih susu kental manis itu gimanaa konsepnyaaa"
"Beli kuota bisa, beli susu gak bisa,"
"Sebelum nikah harus punya pendidikan dulu ya bund,"

Dan puluhan komentar bernada sama masuk ke ponselku. Kumatikan live TikTokku. Tak terasa mataku panas. Bayiku melihat kepadaku kebingungan, kenapa Mamanya menangis? Padahal aku hanya ingin mencoba sedikit hiburan saja. Hiburan apa lagi untuk seorang istri sekaligus ibu yang ditinggal suaminya entah kemana? Teman pun tak ada, sendiri aku membesarkan anakku di metropolitan ini.

Ah, padahal aku hanya ingin memberi anakku makan..

___

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *