75-80 % orang tua mengaku tidak mendapatkan literasi emosi, baik di rumah maupun di sekolah di masa kecil mereka

(Dandiah Care, 2021)

Buku yang berjudul Literasi Emosi ini menjelaskan tentang konsep mengelola emosi dalam dunia parenting yang dikembangkan lebih lanjut oleh pasangan Dandy Birdi dan Diah Mahmudah atau yang lebih dikenal sebagai pendiri Biro Psikologi Dandiah Care.

Buku setebal 212 halaman ini menerangkan konsep psikologi literasi emosi, bagaimana mengenali dan mengenalkan emosi pada anak, disertai juga dengan contoh kegiatan serta workbook yang bisa dicoret-coret. Meski banyak yang disampaikan, buku ini dicetak secara full-colour sehingga pengalaman membacanya menjadi lebih menyenangkan šŸ˜

Sebelum memasuki isi buku, terlebih dahulu penulis memperkenalkan konsep dasar, antara lain bahwa manusia memiliki 3 otak yaitu head brain, gut brain, serta heart brain. Head brain erat kaitannya dengan fungsi berpikir, gut brain (usus) berhubungan dengan diri, serta heart brain berkaitan dengan nilai serta emosi. Karena buku ini membahas khususnya tentang aspek emosi, maka pembahasan difokuskan pada heart brain.

Selain itu, diperkenalkan juga lima pilar sejahtera Dandiah, yaitu Spiritual, Sosial, Emosional, Intelektual, serta Fisik. Buku ini akan membantu para parents untuk memaksimalkan aspek-aspek serta 3 otak manusia tersebut pada anaknya.

Setelah itu, parents dan anak diajak untuk mengukur level literasi emosi keluarga dengan menjawab beberapa pertanyaan. Sehingga pada akhir, pencapaian akan lebih terukur.

Ada 7 bab dalam buku ini, yaitu tentang “Lima Dimensi Literasi Emosi”, antara lain:
1. Rasa dan Emosi
2. Empati
3. Pengelolaan Emosi
4. Pemaafan Tulus
5. Integrasi Empat Dimensi Literasi Emosi (yakni 4 bab sebelumnya)

Lalu pada akhir buku, bab 6 dan 7 adalah tambahan yaitu:
6. Assesment atau kegiatan yang bisa dilaksanakan
7. Kisah nyata penerapan literasi emosi

Dalam tiap babnya, terdiri dari 3 garis besar yaitu: Konsep, Praktik dan Aplikasi, serta Refleksi.

Penulis lebih dahulu memaparkan teori-teori serta referensi, sebelum mengembangkannya menjadi metode parenting. Tersedia grafik serta gambar yang menarik untuk memudahkan parents memahami maksud dari masing-masing bab. Tidak seluruh halaman berisi tulisan, banyak juga disisipkan ilustrasi agar buku menjadi lebih menarik.

Di tahap Praktik dan Aplikasi, penulis menjabarkan kegiatan yang berbeda untuk masing-masing usia. Dibedakan menjadi Masa Pengasuhan dan Pendidikan. Masa Pengasuhan dibagi menjadiĀ Masa Pengasuhan Satu (0-2 tahun) dan Masa Pengasuhan Dua (3-6 tahun). Masa Pendidikan dibagi menjadi Masa Pendidikan Satu (7-10 tahun) dan Masa Pendidikan Dua (>10 tahun). Sehingga parents pun dapat menyesuaikan cara-cara sesuai dengan usianya. Penulis juga menyisipkan cerita-cerita nyata yang terjadi pada keluarganya sehingga metode dapat dilaksanakan dengan lebih aplikatif.

Penulis mencontohkan banyak singkatan atau metode dalam bab-babnya. Misalnya pada Bab 1 tentang Dunia Rasa dan Emosi, ada metode yang disingkat dengan akronim CONNECT, yaitu:
1. C – Cerita nama emosi
2. O – Olah rasa dan emosi dengan bahasa lisan
3. N – Nilai diri dengan bahasa tubuh
4. N – Nilai kadar emosi dari reaksi tubuh
5. E – Emosi divalidasi dan lakukan normalisasi
6. C – Cek kehadiran trigger
7. T – Tuntaskan pesan dan kebutuhan emosi

Map of Consciousness by Hawkins

Pada bab-bab selanjutnya pun ada singkatan spesifik yang sesuai dengan tema pada bab tersebut, misalnya pada bab 2 singkatan metodenya adalah EMPATHY, dan lain-lain. Cukup banyak singkatan metode dalam buku ini, sehingga akan lebih baik apabila langsung dipraktekkan, karena jika dihafalkan sekaligus akan menjadi banyak šŸ˜

Buku ini juga menggunakan referensi bukuĀ The Map of Consciousness Explained dariĀ David R. Hawkins dan mengembangkan pola skala consciousness dalam metodenya.

Pada akhir bab, terutama pada bab 6 dan 7, penulis menyediakan banyak workbook, assesment, serta kegiatan yang bisa diterapkan oleh orangtua pada keluarganya. Buku ini selain mengedepankan teori, tidak lupa mengembangkan teori itu menjadi suatu kegiatan yang praktikal.

Selain concern pada kesehatan emosi anak, buku ini juga mengajak terlebih dahulu untuk orang tua menyadari emosinya. Orang tua juga harus menerapkan literasi emosi pada pasangan masing-masing sehingga akan lebih mudah untuk menerapkannya pada anak. Apabila orangtua sudah memiliki pengetahuan yang memadai tentang nama-nama emosi, bagaimana cara mengatasi, dll, maka anak pun akan mengikuti.

Penulis selalu mengajak parents untuk memvalidasi emosi anak sebelum berpindah untuk mencari solusi. Terlebih dahulu mengidentifikasi emosi anak, hadir untuk anak, memvalidasi emosi anak, setelah itu baru dilakukan tahap stabilisasi emosi.

Buku ini cocok dibaca untuk para orangtua yang ingin mengembangkan kecerdasan emosi pada anak-anaknya. Buku ini juga sesuai bagi para orangtua yang ingin berkenalan dengan dunia psikologi anak karena menyediakan informasi yang cukup memadai. Meski saya sendiri belum menikah, saya menemukan buku ini baik untuk dibaca sebagai bekal pengetahuan kelak.

Penulis buku ini beragama Islam, oleh karena itu, pola parenting Islami sangat terlihat dari buku ini. Ada beberapa contoh atau referensi yang dimuat berasal dari Al-Qur’an atau Hadist, serta mengambil contoh dari perilaku Rasulullah dan sahabatnya. Namun pada umumnya ilmu dalam buku ini juga dapat diterapkan oleh siapapun.

Baca juga: You Do You by Fellexandro Ruby, a Journey to Finding Yourself [Book Review]